Cerpen - Bayangan Di Ujung Senja
Senja di Danau Limboto tak pernah terasa sesunyi hari itu. Langit jingga dipantulkan oleh air yang tenang, tapi di balik keindahan itu, Lintang merasa seolah danau menyimpan duka yang belum selesai. Di beranda rumah kayu tua di Desa Iluta—rumah peninggalan orang tuanya—ia duduk membisu, menatap genangan air yang kian menyusut tiap tahun, seperti kenangan yang perlahan tergerus waktu. Lintang sudah sepuluh tahun meninggalkan Jakarta. Dulu ia jurnalis idealis yang vokal, menggenggam kebenaran layaknya obor. Tapi sejak adiknya, Bara , hilang dalam kerusuhan aksi mahasiswa di ibu kota, semuanya berubah. Ia menanggalkan pena, memutus semua jaringan, dan mengasingkan diri di kampung halaman. Bara adalah segalanya baginya—adik sekaligus sahabat. Sejak orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan di Tol Trans-Sulawesi, hanya mereka berdua yang saling menggenggam. Bara, si pemberani yang tak pernah takut bersuara. Bara, yang malam itu berkata dengan mata menyala: “Kak, kalau aku mat...